MANAJEMEN KEUANGAN II
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keuangan
II Di Semester Empat
Prodi
S1 Manajamen
Disusun Oleh :
1.
Muhammad
Machfiru Rozaqi / 5130014008
2.
Ilma Ainushofa A /
5130014024
3.
Yusi Nur Irmalia
/ 5230014007
4.
Chytia Ayu
Agusetyani / 5230014013
5.
Hariyanto /
5230014015
Dosen Pembimbing :
NINNASI
MUTTAQIN,S.M.B,M.SM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Biaya modal adalah sebuah konsep dinamis yang dipengaruhi
oleh bermacam-macam faktor ekonomi dan perusahaan. Struktur dasar dari biaya modal
dibuat dengan beberapa asumsi yang berhubungan dengan risiko dan pajak. Biaya
modal diperkirakan untuk suatu waktu tertentu. Biaya modal mencerminkan
rata-rata biaya permodalan yang akan datang berdasarkan data yang tersedia.
Pandangan ini sesuai dengan penggunaan biaya modal untuk membuat keputusan
investasi jangka panjang.
Walaupun perusahaan mengumpulkan dananya sekaligus, biaya
modal mencerminkan hubungan aktivitas pembiayaan. Misalnya perusahaan hari ini
menarik dana dengan hutang, tetapi untuk yang akan datang digunakan modal
sendiri seperti saham biasa. Banyak perusahaan menggabungkan antara pembiayaan
dengan hutang maupun pembiayaan dengan modal sendiri secara optimal.
B. Rumusan
Masalah
Rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini:
1. Apa saja pengertian dari asumsi dasar, konsep dan
sumber-sumber dari modal yang mendasari biaya modal ?
2. Bagaimana menentukan biaya pinjaman jangka panjang dan
biaya saham preferen ?
3. Apa yang dimaksud dengan biaya modal marjinal tertimbang
?
4. Apa
yang dimaksuddenganlaveragekeuangan?
5. Faktor-faktor
yang mempengaruhistrukturkeuangan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar-Dasar Biaya Modal
Biaya modal (Cost of Capital) adalah
biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik yg
berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa, dan laba ditahan untuk
mendanai suatu investasi atau operasi perusahaan.
Penentuan besarnya biaya modal ini dimaksudkan untuk
mengetahui berapa besarnya biaya riil yang harus dikeluarkan perusahaan untuk
memperoleh dana yang diperlukan.
Biaya modal merupakan tingkat pengembalian yang harus dicapai perusahaan atas
investasi proyek untuk mempertahankan nilai pasar sahamnya. Biaya modal dapat
juga dianggap sebagai tingkat pengembalian yang diinginkan oleh penyedia dana
untuk menarik dananya kedalam perusahaan. Jika risiko konstan maka apabila
pelaksanaan proyek dengan tingkat pengembalian diatas biaya modal akan
meningkatkan nilai perusahaan, dan apabila pelaksanaan proyek dengan tingkat
pengembalian dibawah biaya modal akan menurunkan nilai perusahaan.
1. Asumsi-asumsi Dasar
Struktur dasar dari biaya modal dibuat dengan beberapa
asumsi yang berhubungan dengan risiko dan pajak :
a. Risiko bisnis, risiko dimana perusahaan tidak dapat menutup biaya operasional perusahaan. Risiko ini
diasumsikan tidak berubah.
b. Risiko keuangan, risiko dimana perusahaan tidak mampu untukmenutup kewajiban keuangan seperti bunga, biaya pembayaran
sewa guna usaha, dan dividen saham preferen. Risiko ini diasumsikan tidak
berubah.
c. Biaya setelah pajak merupakan biaya yang relevan, dengan perkataan lain
biaya modal diukur dengan dasar setelah pajak.
2. Konsep Dasar
Banyak perusahaan menggabungkan antara pembiayaan dengan
hutang maupun pembiayaan denga modal sendiri secara optimal. Penggabungan ini
disebut target struktur modal (target
capital structure). Target struktur modal (target capital structure) adalah penggabungan optimal yang
diinginkan dari pembiayaan dengan hutang dan modal sendiri yang diusahakan oleh
perusahaan untuk dicapai dan dipelihara.
3. Biaya dari Sumber Modal
Biaya modal dihitung untuk sumber dana jangka panjang
yang tersedia bagi perusahaan sebab sumber tersebut menyediakan pembiayaan yang
permanen. Pembiayaan jangka panjang mendukung investasi dalam aktiva tetap,
yang diasumsikan dipilih dengan menggunakan teknik ‘capital budgeting’ yang sesuai.
Budget merupakan laporan resmi mengenai sumber-sumber
keuangan yang telah disediakan untuk membiayai pelaksanaan aktivitas tertentu
dalam kurun waktu yang ditetapkan. Budget adalah sarana yang digunakan paling
luas untuk perencanaan dan pengendalian aktivitas di tiap-tiap bagian
perusahaan. Budget mengindikasi pengeluaran, penghasilan atau laba yang
direncanakan dalam kurun waktu tertentu dikemudian hari. Angka-angka yang
direncanakan menjadi standar untuk pencapaian prestasi kerja dimasa mendatang.
Ada empat sumber dana jangka panjang yaitu hutang jangka
panjang, saham preferen, saham biasa dan laba ditahan. Sisi kanan neraca dapat
digunakan untuk menggambarkan sumber dana tersebut sebagai berikut
NERACA
Aktiva lancar Hutang lancar
Hutang jangka
panjang
Aktiva tetap Modal pemegang saham sumber dana
Saham preferen jangkapanjang
Modal saham
biasa
Saham biasa
Laba ditahan
Walaupun tidak semua perusahaan menggunakan metode
pembiayaan seperti disebut diatas, tetapi setiap perusahaan diharapkan
mendapatkan dana dari sumber-sumber dalam struktur modal. Biaya yang spesifik
dari setiap sumber pembiayaan adalah biaya setelah pajak yang diperoleh dari pembiayaan
saat ini dan bukan berdasarkan biaya historis yang dicerminkan oleh pembiayaan
yang ada pada pembukuan perusahaan.
B. Biaya Pinjaman Jangka Panjang
Biaya pinjaman jangka panjang adalah biaya
sesudah pajak saat ini untuk mendapatkan dana panjang melalui pinjaman. Contoh
: dana yang diperoleh melalui penerbitan dan penjualan obligasi.
Permintaan dana jangka panjang umumnya berasal dari
perusahaan yang dilakukan dengan menerbitkan instrumen keuangan (sekuritas)
berjangka panjang, seperti saham dan obligasi. Dikatakan berjangka panjang
karena dana yang tertanam dalam saham berarti akan tertanam selamanya dalam
perusahaan tersebut, sedangkan untuk obligasi umumnya paling tidak memerlukan
waktu lima tahun baru dilunasi. Saham menunjukkan bukti kepemilikan, sedangkan
obligasi merupakan surat tanda hutang jangka panjang yang diterbitkan oleh
perusahaan.
Hasil bersih (net proceeds)
Kebanyakan hutang jangka panjang perusahaan diperoleh
melalui penjualan surat obligasi. Hasil bersih (net proceeds) adalah dana yang sebenarnya diterima dari
penjualan surat-surat berharga. Flotation cost adalah jumlah biaya total yang
dikeluarkan untuk menerbitkan dan menjual surat-surat berharga yang mengurangi
hasil bersih (net proceeds)
dari penjualan obligasi, apakah dijual dengan premi, diskon atau pada nilai
nominalnya (par/face value).
Biaya hutang sebelum pajak
Biaya hutang sebelum pajak, untuk obligasi dapat
diperoleh dengan 3 cara yaitu berdasarkan penetapan, perhitungan biaya dan
perkiraan biaya.
Biaya hutang sesudah pajak
Biaya modal harus dinyatakan dengan dasar setelah pajak.
Bunga pinjaman dapat mengurangi pajak karenanya mengurangi pendapatan kena
pajak. Pengurangan pendapatan kena pajak adalah sebesar perkalian bunga
pinjaman dan tingkat pajak. Biaya hutang sesudah pajak adalah biaya hutang
sebelum pajak dikali satu dikurangi tingkat pajak.
C. Biaya Saham Preferen
Saham preferen merupakan bentuk kepemilikan perusahaan
yang pemegangnya menerima dividen sebelum pendapatan perusahaan dibagikan
kepada pemegang saham biasa. Dividen saham preferen dinyatakan dalam mata uang
pertahun atau dinyatakan dalam persentase pertahun.
Saham preferen sebagian besar membayar dividen tetap pada
interval waktu yang teratur (setahun, setengah tahun, kuartalan, atau bulanan).
Saham preferen tidak mempunyai batasan waktu (jatuh tempo) dan memberi
pembayaran dividen. Oleh karena itu, digunakan pendekatan dalam penilaian saham
preferen.
Saham preferen adalah saham yang memberikan dividen yang
tetap besarnya. Besarnya dividen tidak dipengaruhi oleh laba yang diperoleh
oleh perusahaan. Sayangnya pembayaran dividen saham preferen tidak dapat
dipakai sebagai pengurang pajak. Dengan kata lain, pembayaran dividen saham
preferen dilakukan terhadap laba setelah pajak. Kadang saham preferen
memberikan dividen yang kumulatif. Artinya apabila pada tahun lalu perusahaan
rugi, maka besarnya dividen akan ditunda untuk dibayarkan keseluruhannya
pada tahun ini. Kadang-kadang saham preferen juga mempunyai participating feature. Artinya,
setelah para pemegang saham preferen menerima dividen sebesar Rp. 160, dan
ternyata pemegang saham biasa memperoleh dividen sebesar Rp. 250, maka para
pemegang saham preferen akan mendapat tambahan dividen sebesar Rp. 90. Berapa
lama periode kumulatif dan ada tidaknya participating feature akan ditentukan dalam rapat pemegang
saham. Umumnya pemegang saham preferen tidak berhak memberikan suara dalam
rapat umum pemegang saham (RUPS). Meskipun demikian, variasi mungkin dijumpai
sesuai dengan anggaran dasar perusahaan.
Dalam prakteknya pembagian dividen dikaitkan dengan laba
yang diperoleh oleh perusahaan dan tersedia bagi pemegang saham. Laba ini di tunjukkan
dalam laporan rugi laba sebagai baris terakhir dalam laporan keuangan
(karenanya disebut sebagai bottom
line), dan disebut sebagai laba setelah pajak (Eernings After Taxes, EAT).
Dividen tunai merupakan distribusi kas kepada pemegang
saham. Dividen saham adalah distribusi saham perusahaan itu sendiri kepada
pemegang saham secara proporsional. Dividen ini mencerminkan kapitalisasi laba
secara permanen. Pemegang saham menerima tambahan saham sebagai pengalihan
saldo laba ke akun modal.
D. Biaya Saham Biasa
Biaya saham biasa adalah merupakan hasil yang diharapkan
kembali atas saham oleh para investor dipasar. Dua bentuk pembiayaan saham
biasa yaitu laba ditahan (retained
earnings) dan penerbitan saham biasa baru. Sebagai langkah pertama dalam
menetukan biaya-biaya, kita harus memperkirakan biaya modal saham biasa.
Menentukan biaya saham biasa
Biaya saham biasa adalah tingkat dimana investor
mendiskontokan dividen yang diharapkan dari perusahaan untuk menentukan nilai
sahamnya. Dua teknik untuk mengukur biaya saham biasa dari modal sendiri yang
tersedia , yaitu:
a.
‘Constant growth valuation model’ (Gordon
Model)
Constant growth valuation model, menggunankan dasar
pemikiran bahwa nilai saham sama dengan nilai sekarang dari semua dividen yang
akan datang (yang diasumsikan pada tingkat pertumbuhan konstan) yang diharapkan
diperoleh terus dalam waktu yang tidak terbatas.
b.
‘Capital Asset Pricing Model’ (CAPM)
Menggambarkan hubungan antara pengembalian yang
diinginkan atau biaya modal saham biasa, dan risiko nondiversifikasi dari
perusahaan seperti yang diukur oleh beta koefisien.
Membandingkan teknik ‘Constant growth’ dan ‘Capital asset
pricing model’ (CAPM) yaitu dalam pertimbangan secara langsung risiko
perusahaan yang dicerminkan dengan beta untuk menentukan pengembalian yang
diinginkan atau biaya modal sendiri saham biasa. Dalam constant growth
model tidak memperhatikan resiko, tetapi menggunakan harga pasar, yang
mencerminkan preferensi ‘risk-return’ yang diharapkan oleh investor di pasar.
Walaupun secara teoritis teknik untuk mencari pengembalian yang diinginkan atas
saham biasa dengan menggunakan ‘constant growth’ dan CAPM adalah sama tetapi
dalam prakteknya sulit untuk mengukur masalah yang berkaitan dengan
pertumbuhan.
Perbedaan lainnya model ‘constant growth valuation’ dalam mencari biaya modal
sendiri saham biasa dapat dengan mudah disesuaikan biaya flotationnya untuk
mencari biaya saham biasa yang baru. Sedangkan dalam CAPM tidak dapat dilakukan
mekanisme penyesuaian sederhana karena kesulitan dalam menyesuaikan biaya modal
sendiri saham biasa denga biaya floatation sebab model tersebut tidak
memasukkan harga pasar, sebagai variabel yang dibutuhkan untuk membuat
penyesuaian. Walaupun CAPM mempunyai dasar teoritis yang kuat, perhitungan yang
ditampilkan dalam model ‘constant
growth valuation’ tetap digunakan untuk mengukur biaya saham biasa.
Biaya laba ditahan
Biaya laba ditahan (the cost of retained earnings) bagi perusahaan adalah sama
seperti biaya penerbitan penuh atas tambahan saham biasa (fully subscribed issue of additional common
stock), yang diukur oleh biaya modal sendiri saham biasa. Hal ini
berarti laba ditahan meningkatkan modal sendiri dengan cara yang sama seperti
penerbitan baru saham biasa.
Penyisihan pendapatan dapat diterima hanya jika
diharapkan dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang diinginkan dari
dana yang direinvestasikan. Dengan memandang laba ditahan sebagai biaya
penerbitan penuh dari tambahan saham biasa, maka biaya laba ditahan adalah sama
dengan biaya modal sendiri saham biasa.
Biaya dari penerbitan baru
saham biasa
Biaya penerbitan saham biasa baru diperoleh dengan
menghitung biaya saham biasa setelah dipertimbangkan jumlah penilaian dibawah
harga dan biaya ‘flotation’ yang terkait. Pada umumnya, saham baru akan dijual
dibawah harga (underpriced).
Biaya penerbitan saham biasa baru menjadi penting hanya jika laba ditahan tidak
tersedia. Umumnya menjual saham biasa baru harus dengan harga yang lebih rendah
dari harga pasar yang berlaku sekarang (underpriced).
E. Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (Weighted Average Cost
of Capital’-WACC)
Biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost
of Capital’-WACC) mencerminkan rata-rata biaya modal dimasa akan datang yang
diharapkan. Biaya modal rata-rata tertimbang diperoleh dengan menimbang biaya
dari setiap jenis modal tertentu sesuai dengan proporsinya pada struktur modal
perusahaan.
Skema penimbangan yang bisa digunakan dalam perhitungan
biaya modal rata-rata tertimbang adalah berdasarkan:
a.
Penimbangan nilai buku (book value
weight), penimbangan yang menggunakannilai akunting untuk mengukur bagian setiap jenis modal
dalam struktur keuangan perusahaan.
b.
Penimbangan nilai pasar (market
value weight), penimbangan yang menggunakan nilai pasar untuk mengukur bagian setiap jenis modal dalam
struktur keuangan perusahaan. Penimbangan dengan nilai pasar menarik sebab
nilai pasar surat berharga mendekati nilai rupiah yang sebenarnya diterima dari
penjualan surat berharga. Biaya dari berbagai jenis modal dihitung dengan
menggunakan harga pasar umum sehingga beralasan menggunakan penimbangan dengan
nilai buku.
c.
Penimbangan historis (historic
weight), penimbangan nilai buku atau nilai pasar didasarkan pada bagian
struktur modal yang sebenarnya. Misalnya, nilai buku yang lama atau yang
berlaku dapat digunakan untuk membuat penimbangan historis. Demikian pula nilai
pasar yang lalu atau yang berlaku dapat digunakan untuk membuat penimbangan
historis.
d.
Penimbangan target (target weights),
penimbangan nilai buku atau nilai pasar didasarkan pada bagian struktur modal
yang diinginkan. Perusahaan menggunakan penimbangan target sebagai dasar untuk
mencapai struktur modal yang optimal. Dari sudut pandang teoritis
penimbangan yang lebih disukai adalah penimbangan target dengan nilai pasar.
F. Keputusan Investasi dan Biaya Marjinal
Biaya modal rata-rata tertimbang merupakan input utama
dalam proses pembuatan keputusan investasi. Perusahaan akan hanya melakukan
investasi jika pengembalian yang diharapkan lebih besar daripada biaya modal
rata-rata tertimbang. Tentu saja untuk suatu waktu tertentu, biaya keuangan
perusahaan dan pendapatan dari investasi akan dipengaruhi oleh volume
pembiayaan atau investasi yang dilakukan.
Biaya modal marjinal rata-rata
tertimbang (the
weighted marginal cost of capital-WMCC)
Biaya modal marjinal rata-rata tertimbang berhubungan
dengan uang yang akan datang dari total pembiayaan yang baru. Manajer keuangan
tertarik dengan biaya marjinal sebab relevan dengan keputusan sekarang. Karena
biaya dari komponen pembiyaan seperti hutang, saham preferen dan saham biasa
meningkat dalam jumlah lebih besar maka WMCC merupakan fungsi peningkatan dari
tingkat total pembiayaan baru. Peningkatan biaya komponen pembiayaan disebabkan
karena semakin besar resiko penawar dana. Resiko meningkat sesuai dengan
peningkatan ketidakpastian terhadap hasil dari pembiayaan investasi dengan dana
tersebut. Dengan kata lain, penawar dana meminta pengembalian lebih besar dalam
bentuk bunga, dividen atau tingkat pertumbuhan sebagai kompensasi untuk
peningkatan resiko karena peningkatan volume yang lebih besar dari pembiyaan
baru yang dilakukan.
Faktor lain yang menyebabkan biaya modal rata-rata
tertimbang meningkat adalah penggunaan pembiayaan sendiri saham biasa. Bagian
pembiayaan baru yang diperoleh dari saham biasa akan diambil dari laba ditahan
yang tersedia sampai habis baru setelah itu diperoleh melalui pembiayaan
saham biasa baru. Karena laba ditahan merupakan bentuk yang lebih murah
daripada penjualan saham biasa baru, maka jelas jika laba ditahan habis akan
menyebabkan biaya modal rata-rata tertimbang meningkat dengan penambahan saham
baru yang lebih mahal.
The Investment Opportunities
Schdule’ (IOS)
Untuk waktu tertentu, perusahaan mempunyai peluang
investasi. Peluang itu berbeda tergantung pada antisipasi ukuran
investasi, resiko dan pengembalian (sebab biaya modal rata-rata tertimbang
tidak diterapkan untuk perubahan resiko investasi, diasumsikan bahwa semua
peluang mempunyai resiko yang sama seperti resiko perusahaan).
The Investment Opportunities Schdule’ (IOS) adalah suatu
ranking kemungkinan investasi dari yang terbaik (pengembalian tertinggi) sampai
yang terburuk (pengembalian terendah).
Menggunakan WMCC dan IOS untuk
membuat keputusan
Sepanjang IRR proyek lebih besar daripada WMCC dari
pembiayaan yang baru, perusahaan menerima proyek tersebut. Namun bila
perusahaan menerima lebih banyak proyek, maka pembiayaan yang dibutuhkan akan
lebih besar, sehingga WMCC akan meningkat. Perusahaan akan menerima proyek
hanya sampai pada titik dimana marjinal return dari investasi sama dengan WMCC,
sebab setelah titik tersebut pengembalian investasi akan lebih kecil dari biaya
modalnya.
Pendekatan ini konsisten dengan maksimalisasi NPV, sebab
pada proyek yang konvensional:
a.
NPV positif selama IRR melebihi biaya modal rata-rata tertimbang
b.
Semakin besar selisih antara IRR dan biaya modal rata-rata terimbang,
semakin besar hasil NPV
Karenanya penerimaan proyek dimulai dengan yang mempunyai
selisih positif terbesar antara IRR dan modal rata-rata tertimbang sampai pada
titik dimana IRR sama dengan modal rata-rata tertimbang yang akan diperoleh
pada maksimum total NPV untuk semua independen proyek yang diterima. Hasil yang
diperoleh konsisten dengan sasaran perusahaan memaksimalisasi kekayaan pemilik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Biaya modal adalah biaya riil yang harus dikeluarkan
oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik hutang, saham preferen, saham biasa
maupun laba ditahan untuk mendanai suatu investasi perusahaan.
Biaya modal biasanya digunakan sebagai ukuran untuk
menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi yaitu dengan
membandingkan rate of return dari usulan investasi tersebut dengan biaya
modalnya.
Perhitungan biaya penggunaan modal adalah penting
berdasarkan tiga alasan berikut:
- Maksimalisasi nilai perusahaan mengharuskan biaya-biaya diminimumkan.
- Capital budgeting memerlukan estimasi tentang biaya modal
- Konsep biaya modal erat hubunganya dengan konsep mengenai pengertian tingkat keuntungan yang disyaratkan.
Biaya modal
yang tepat untuk semua keputusan adalah rata-rata tertimbang dari seluruh komponen
modal. Biaya modal harus dihitung berdasar basis setelah pajak, karena arus kas
setelah pajak adalah yang paling relevan untuk keputusan investasi.
DAFTAR PUSTAKA
- Ridwan S. Sundjaja–IngeBarlian.2001. ManajemenKeuanganDua. Jakarta:PT Prenhallindo
- Sabardi, Agus. 1993. Manajemen Keuangan, Jilid 1, Yogyakarta: UPP AMP YKPN
- Stoner, James A.F. Manajemen.. Jilid 2 Edisikedua, Jakarta: Erlangga
- Subramanyam. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Edisi 10, Buku 1. Jakarata: Salemba Empat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar