MANAJEMEN KEUANGAN II
KEBIJAKAN DEVIDEN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keuangan II Di Semester Empat
Prodi S1 Manajamen
Disusun Oleh :
1. Muhammad Machfiru Rozaqi / 5130014008
2. Ilma Ainushofa A / 5130014024
3. Yusi Nur Irmalia / 5230014007
4. Chyntia Ayu Agusetyani / 5230014013
5. Hariyanto / 5230014015
Dosen Pembimbing :
NINNASI MUTTAQIN,S.M.B,M.SM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Untuk memenuhi salah
satu tugas kuliah,maka penyusun membuat makalah ini dengan tema kebijakan
deviden. Makalah ini kami beri judul KEBIJAKAN DEVIDEN.
Alasan mengapa kami memilih kebijakan
deviden dalam tema makalah ini, karena kami ingin mengetahui lebih dalam
tentang kebijakan deviden. Dalam makalah ini, kami membahas mengenai pengertian
kebijakan deviden,factor yang mempengaruhi kebijakan deviden, pendapat tentang
kebijakan deviden, macam-macam kebijakan deviden, kebijakan stock deviden,
kebijakan stock splits, kebijakan reverse dplits, dan rumus-rumus yang
digunakan.
Kebijakan deviden merupakan bagian yang
tidak dapat dipisahan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Secara definisi,
kebijakan deviden adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada
akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk deviden atau akan
ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi dimasa yang akan datang.
Kebijakan deviden merupakan salah satu
kebijakan dalam perusahaan yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan secara
seksama. Dalam kebijakan deviden ditentukan jumlah alokasi laba yang dapat
dibagikan kepada para pemegang saham (deviden) dan alokasi laba yang dapat
ditahan perusahaan. Semakin besar laba yang ditahan, semakin kecil laba yang
akan dibagikan pada para pemegang saham. Dalam pengalokasian laba tersebut
timbul lah berbagai masalah yang dihadapi.
Keuntungan perusahaan merupakan faktor
pertama yang biasanya menjadi pertimbangan direksi, walaupun untuk membayar
deviden perusahaan rugipun dapat melaksanakannya, karena adanya cadangan dalam
bentuk laba ditahan. Namun demikian hubungan antara keuntungan perseroan dengan
keputusan deviden masih merupakan suatu hubungan yang vital (Robert, 1997).
Perusahaan selalu berusaha meningkatkan citranya dengan cara setiap peningkatan
laba akan diikuti dengan peningkatan porsi laba yang dibagi sebagai deviden dan
juga dapat mendorong peningkatan nilai saham
perusahaan.
B. Identifikasi Masalah
Banyak hal yang dapat mempengaruhi
kebijakan deviden antara lain yaitu : posisi likuiditas perusahaan, kebutuhan
dana untuk membayar hutang, tingkat pertumbuhan perusahaan, pengawasan terhadap
perusahaan, kemampuan meminjam, tingkat keuntungan, stabilitas return, dan
akses kepasar modal.
C. Perumusan Masalah
Dalam makalah ini kami rumuskan permasalahan yang akan dibahas, yaitu tentang Kebijakan Deviden.
Kami menganggap ini sangat menarik.
Adapun tujuan dilakukannya pembatasan masalah ini agar dalam penyampian makalah
ini tidak terjadi selang pendapat.
Dalam makalah ini penyusun membatasi
permasalahan yang akan dipertanyakan, yaitu :
1. Apakah yang dimaksud
dengan kebijakan deviden ?
2. Faktor apa saja yang
mempengaruhi kebijakan deviden ?
3. Kebijakan deviden
dibagi menjadi berapa macam ?
D. Tujuan
2. Menambah ilmu
pengetahuan tentang kebijakan deviden
3. Sebagai salah satu
syarat menjadi calon assisten Lab. Manajemen
4. Mengetahui faktor apa
saja yang mempengaruhi kebijakan deviden
E. Manfaat
2. Mengetahui apa itu
kebijakan deviden.
3. Mengetahui factor
yang mempengaruhi kebijakan deviden.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebijakan Deviden
Pengertian kebijakan
dividen (Deviden Police) menurut Agus Sartono (2008:281)
menyatakan bahwa :
“ Kebijakan dividen adalah keputusan
apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham
sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan
investasi dimasa datang ” .
Pengertian kebijakan dividen menurut
Bambang Riyanto (2008:265) menyatakan bahwa :
“ Kebijakan dividen
adalah kebijakan yang bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara pengguna pendapatan untuk dibayarkan
kepada para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan dalam perusahaan,
yang berarti pendapatan tersebut harus ditanam di dalam perusahaan ” .
Sedangkan pengertian kebijakan dividen
menurut I Made Sudana (2011:167) menyatakan bahwa :
“Kebijakan dividen merupakan bagian
dari keputusan pembelanjaan perusahaan, khususnya berkaitan dengan pembelanjaan
internal perusahaan. Hal ini karena besar kecilnya dividen yang dibagikan akan
mempengaruhi besar kecilnya laba yang ditahan”.
Laba ditahan (retained earning) dengan demikian merupakan salah satu
dari sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan
sedangkan dividen merupakan aliran kas yang dibayarkan kepada para pemeganf
saham atau (equity inventors).
Apabila perusahaan
memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang
ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern atau internal financial. Sebaliknya jika perusahaan memilih
untuk menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukan dana intern akan
semakin besar.
B. Macam-Macam Deviden
Berdasarkan bentuk
deviden yang dibayarkan, deviden dapat dibedakan atas dua jenis yaitu; deviden
tunai (cash dividend) dan deviden saham (stock devidend). Deviden
tunai merupakan deviden yang dibagikan dalam bentuk uang tunai. Deviden saham
merupakan deviden yang dibagikan dalam bentuk saham dengan proporsi tertentu.
Nilai suatu deviden tunai tentunya sesuai dengan nilai tunai yang diberikan,
sedangkan nilai suatu deviden saham dapat dihitung dengan rumus harga wajar
deviden saham dibagi dengan rasio deviden saham. Berdasarkan periode satu tahun
buku maka deviden dapat dibagi atas dua jenis yaitu; deviden interm dan deviden
final. Deviden interm merupakan deviden yang dibayarkan oleh perseroan antara
satu tahun buku dengan tahun buku berikutnya atau antara deviden final satu
dengan deviden final berikutnya. Di Indonesia pada umumnya deviden interm hanya
dibayarkan satu kali dalam setahun. Deviden final merupakan deviden hasil
pertimbangan setelah penutupan buku perseroan pada tahun sebelumnya yang
dibayarkan pada tahun buku
berikutnya. Deviden final ini juga
memperhitungkan dan mempertimbangkan hubungannya dengan deviden interm yang
telah dibayarkan untuk tahun buku tersebut.
C.Macam-macam Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen
yang dilakukan perusahaan bentuknya bisa
bermacam-macam. Menurut Bambang Riyanto (2008:269) menyatakan bahwa ada
macam-macam kebijakan dividen yang dilakukan oleh perusahaan antara lain
sebagai berikut:
1. Kebijakan dividen
yang stabil
Banyak perusahaan yang menjalankan
kebijakan dividen yang stabil, artinya jumlah dividen perlembar yang dibayarkan
setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan
per lembar saham setiap tahunnya berfluktuasi.
2. Kebijakan dividen
dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu
Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah
minimal dividen per lembar saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang
lebih baik perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas jumlah minimal
tersebut.
3. Kebijakan dividen
dengan penetapan dividen payout ratio yang
konstan
Jenis kebijakan dividen yang ketiga
adalah penetapan dividen payout ratio yang konstan. Perusahaan yang menjalankan
kebijakan ini menetapkan dividen payout ratio yang konstan misalnya 50%. Ini
berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahunnya
akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan keuntungan netto yang diperoleh
setiap tahunnya.
4. Kebijakan dividen
yang fleksibel
Kebijakan dividen yang terakhir adalah
penetapan dividen payout ratio yang fleksibel, yang besarnya setiap tahun disesuaikan
dengan posisi financial dan kebijakan financial dari perusahaan yang
bersangkutan.
Stock Deviden
adalah dividen yang diberikan kepada
para pemegang saham dalam bentuk saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan
itu sendiri. Di Indonesia saham yang dibagikan sebagai dividen tersebut disebut
saham bonus. Dengan demikian para pemegang saham mempunyai jumlah lembar saham
yang lebih banyak setelah menerima Stock Dividen. Dividen saham dapat berupa
saham yang jenisnya sama maupun yang jenisnya berbeda.. Tujuan perusahaan
memberikan stock deviden adalah untuk menghemat kas karena adanya kesempatan
investasi yang lebih menguntungkan.
Stock Split
Merupakan kebijakan untuk meningkatkan
jumlah lembar saham dengan cara pemecahan jumlah lembar saham menjadi jumlah
lembar yang lebih banyak dengan pegurangan nilai nominal saham yang lebih kecil
secara proporsional. Oleh karena itu dengan stock splits harga saham menjadi
lebih murah. Tujuan stock splits adalah untuk menempatkan harga saham dalam
trading range tertentu.
Trading Range Theory memberikan
penjelasan bahwa stock split meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Menurut
teori ini, manajemen menilai harga saham terlalu tinggi sehingga kurang menarik
diperdagangkan. Manajemen berupaya untuk menata kembali harga saham pada
rentang harga tertentu yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Hal ini
diharapkan semakin banyak partisipan pasar yang akan terlibat dalam
perdagangan. Dengan adanya stock split, harga saham akan turun sehingga akan
banyak investor yang mampu bertransaksi. Trading Range Theory atau
Liquidity Hypotheses menyatakan bahwa manajemen melakukan stock
split didorong oleh perilaku praktisi pasar yang konsisten dengan anggapan
bahwa dengan melakukan stock split dapat menjaga harga saham tidak terlalu
mahal. Di mana selanjutnya nilai nominal saham dipecah karena ada batas harga
yang optimal untuk saham. Tujuan dari pemecahan nilai nominal saham adalah
untuk meningkatkan daya beli investor sehingga akan tetap banyak pelaku pasar
modal yang mau memperjualbelikan saham yang bersangkutan. Kondisi ini pada
akhirnya akan meningkatkan likuiditas saham. Likuidity
hypothesis,
yaitu dengan pemecahan saham maka harga saham akan lebih rendah, sehingga lebih
banyak investor individual terdorong untuk membeli saham dan diharapkan likuiditas
saham tersebut meningkat.
Signaling Theory menyatakan bahwa
perusahaan yang melaksanakan kebijakan stock split adalah perusahaan yang
mempunyai kinerja keuangan cukup baik. Pengumuman stock split juga mmerupakan
sinyal bahwa earing dan cash deviden akan
meningkat. Peningkatanearing dan cash deviden merupakan
gambaran prospek perusahaan yang baik. Stock split memerlukan biaya yang tidak
sedikit, sehingga perusahaan yang memiliki kinerja yang baik saja, yang dapat
melakukan stock split.
Repurchasing of stock
Sebagai alternatif terhadap pemberian
dividen berupa uang tunai ( cash dividen ) , perusahaan dapat mendistribusikan
pendapatan kepada pemegang saham dengan cara membeli kembali saham perusahaan (
repuchasing stock ).
Keuntungan stock repurchase bagi
pemegang saham :
1. Stock repuchase
sering di pandang sebagai tanda positif bagi investor karena pada umumnya stock
repuchase dilakukan jika perusahaan merasa bahwa saham “ undervalued “.
2. Stock repuchase
mengurangi jumlah saham yang beredar dipasar. Setelah stock repuchase ada
kemungkinan harga saham naik.
Kerugian bagi pemegang saham :
1. Perusahaan membeli
kembali saham dengan harga yang terlalu tinggi sehingga merugikan pemegang
saham yang tidak menjual kembali sahamnya.
2. Keuntungan stock
repuchase dalam bentuk capital gains, padahal sebagian investor menyukai
dividen.
Keuntungan bagi perusahaan :
1. Menghindari kenaikan
dividen. Jika dividen naik terlalu tinggi dikhawatirkan di masa mendatang
perusahaan terpaksa membagi dividen yang lebih kecil ( pada masa sulit atau
banyak kebutuhan dana investasi ) yang dapat memberi petanda negatif. Stoc
repuchase merupakan alternatif yang baik untuk mendistribusikan penhasilan yang
diatas normal ( extraordinary earnings ) kepada pemegang saham.
2. Dapat digunakan sebagai
strategi untuk mengacau usaha pengambil – alihan perusahaan ( yang biasanya
dilakukan dengan cara membeli saham sebanyak –b anyaknya hingga mencapai jumlah
saham mayoritas ) Stock repuchase dapat menggalkan usaha ini.
3. Mengubah struktur
modal perusahaan. Misalnya, perusahaan ingin meningkatkan rasio hutang dengan
cara menggunakan hutang baru untuk membeli kembali saham yang beredar.
4. Saham yang ditarik
kembali dapat dijual kembali ke pasar jika perusahaan membutuhkan tambahan
dana.
Kerugian bagi perusahaan adalah :
1. Dapat merusak image
perusahaan karena sebagian investor merasa bahwa stock repuchase merupakan
indikator bahwa manajemen perusahaan tidak mempunyai proyek – proyek baru yang
baik. Namun demikian, jika perusahaan benar – benar tidak memiliki kesempatan
investasi yug baik, ia memang sebaiknya mendistribusikan dana kembali kepada
pemegang saham. Tidak banyak bukti empiris yang mendukung alasan ini.
2. Setelah stock
repuchase, pasar mungkin merasa bahwa risiko perusahaan meningkat sehingga
dapat menurunkan harga saham.
Jika harus memilih antara stock
repuchase dan pembayaran dividen tunai, pada pasar yang sempurna ( dimana tidak
ada pajak , biaya komisi untuk jual – beli saham dan efek sinyal dari pemberian
dividen ), investor akan indifferent terhadap ke 2 pilihan. Pada pasar yang
tidak sempurna, investor mungkin akan memiliki preferensi terhadap salah satu
dari ke 2 alternatif tersebut.
Ada 3 metode yang dapat digunakan untuk
membeli kembali saham :
1. Saham dapat dibeli
pada pasar terbuka ( open market )
2. Perusahaan membuat
penawaran formal untuk membeli saham perusahaan dalam jumlah tertentu dan harga
tertentu ( pendekatan tender offer )
3. Perusahaan membeli
sejumlah sahamnya kembali dari satu atau beberapa pemegang saham besar (
pendekatan negotiated basis )
Teori Kebijakan Deviden
Terdapat beberapa pendapat dan teori
yang mengemukakan tentang deviden diantaranya yaitu:
1. Dividend Irrelevance
Theory (ketidakrelevanan
deviden)
Teori yang menyatakan
bahwa kebijakan deviden perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai
perusahaan maupun biaya modalnya. MM menyimpulkan bahwa nilai perusahaan saat
ini tidak dipengaruhi oleh kebijakan deviden. Keuntungan yang diperoleh atas
kenaikan harga saham akibat pembayaran deviden akan diimbangi dengan penurunan
harga saham karena adanya penjualan saham baru. Oleh karenanya pemegang saham
dapat menerima kas dari perusahaan saat ini dalam bentuk pembayaran deviden
atau menerimanya dalam bentuk capital gain.
Kemakmuran pemegang saham sekali lagi tidak dipengaruhi oleh kebijakan
deviden saat ini maupun dimasa datang.
2. The Bird in The Hand Theory
Gordon dan Lintner
berpendapat bahwa investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa
pembayaran deviden daripada menunggu capital gain.
Sementara itu MM berpendapat dan telah dibuktikan secara matematis bahwa
investor merasa sama saja apakah menerima deviden saat ini atau menerima capital gain dimasa datang. Gordon dan Lintner
beranggapan bahwa para investor memandang satu burung ditangan lebih berharga
daripada seribu burung di udara. Sementara itu MM berpendapat bahwa tidak semua
investor berkeinginan untuk menginvestasikan kembali deviden mereka
diperusahaan yang sama atau sejenis dengan memiliki resiko yang sama, oleh
sebab itu tingkat resiko pendapatan mereka dimasa datang bukannya ditentukan
oleh kebijakan deviden, tetapi ditentukan oleh tingkat resiko investasi baru.
3.Tax
Preference Theory
Investor menghendaki
perusahaan untuk menahan laba setelah pajak dan dipergunakan untuk pembiayaan
investasi daripada deviden dalam bentuk kas. Oleh karenanya perusahaan
sebaiknya menentukan dividend payout ratio yang rendah atau bahkan
membagikan deviden. Karena deviden cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi
daripada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan
yang lebih tinggi untuk saham dengandividendyield yang
tinggi.
4. Devidend Relevance Theory (Relevan deviden)
Deviden adalah relevan untuk kondisi
yang tidak pasti, investor dapat dipengaruhi oleh kebijakan deviden.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kebijakan Dividen
Menurut Bambang Riyanto (2008:267),
faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan adalah
sebagai berikut :
1. Posisi Likuiditas
Perusahaan
Posisi kas atau likuiditas dari suatu
perusahaan merupakan faktor yang penting yang harus dipertimbangkan sebelum
mengambil keputusan untuk menetapkan besarnya dividen yang akan dibayarkan
kepada para pemegang saham.
2. Kebutuhan Dana untuk
Membayar Hutang
Apabila perusahaan
menetapkan bahwa pelunasan utangnya akan diambilkan dari laba ditahan, berarti
perusahaan harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan
tersebut, yang ini berarti bahwa hanya sebagian kecil saja dari pendapatan
atau earningyang dapat dibayarkan sebagai dividen. Dengan
kata lain perusahaan harus menetapkan dividen payout ratio yang
rendah.
3. Tingkat Pertumbuhan
Perusahaan
Makin cepat tingkat
pertumbuhan suatu perusahaan, makin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai
pertumbuhan perusahaan tersebut. Makin besar kebutuhan dana untuk waktu
mendatang untuk membiayai pertumbuhannya, perusahaan tersebut biasanya lebih
senang untuk menahan earningnya daripada
dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham dengan mengingat
batasan-batasan biayanya.
4. Pengawasan terhadap
Perusahaan
Pada pembelanjaan intern dalam rangka
usaha mempertahankan “control” terhadap perusahaan, berati mengurangi “dividen
payout ratio”nya.
Berikut berbagai faktor-faktor
yang mempengaruhi kebijakan deviden (Sartono, 2001) :
1. Kebutuhan dana
perusahaan
Kebutuhan dana bagi perusahaan dalam
kenyataanya merupakan factor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan
kebijakan deviden yang akan diambil. Aliran kas perusahaan yang diharapkan,
pengeluaran modal dimasa datang yang diharapkan, kebutuhan tambahan piutang dan
persediaan, pola (skedul) pengurangan utang dan masih banyak faktor lain yang
mempengaruhi posisi kas perusahaan harus dipertimbangkan dalam analisis
kebijakan deviden.
2. Likuiditas
Likuiditas perusahaan merupakan
pertimbangan utama dalam banyak kebijakan deviden. Karena deviden bagi
perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar posisi kas dan likuiditas
perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk
membayar deviden.
3. Kemampuan meminjam
Kemampuan meminjam
dalam jangka pendek tersebut akan meningkatkan fleksibilitas likuiditas
perusahaan. Selain itu fleksibilitas perusahaan juga dipengaruhi oleh kemampuan
perusahaan untuk bergerak di pasar modal dengan mengeluarkan obligasi.
Perusahaan yang semakin besar dan establish akan
memiliki akses yang lebih baik di pasar modal. Kemampuan meminjam yang lebih
besar, fleksibilitas yang lebih besar akan memperbesar kemampuan membayar
deviden.
4. Keadaan pemegang
saham
Jika perusahaan itu
kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajemen biasanya mengetahui deviden yang
diharapkan oleh pemegang saham dan dapat bertindak dengan tepat. Jika hampir
semua pemegang saham berada dalam golongan high tax (pajak
yang lebih tinggi) dan lebih suka memperoleh capital gains, maka
perusahaan dapat mempertahankan dividend payout yang
rendah. Dengan dividend payout yang rendah
tentunya dapat diperkirakan apakah perusahaan akan menahan laba untuk
kesempatan investasi yang profitable. Untuk
perusahaan yang jumlah pemegang sahamnya besar hanya dapat menilai deviden yang
diharapkan pemegang saham dalam konteks pasar.
5. Stabilitas deviden
Bagi para investor
faktor stabilitas deviden akan lebih menarik daripada dividend payout ratio yang tinggi. Stabilitas
disini dalam arti tetap memperhatikan tingkat pertumbuhan perusahaan, yang
ditunjukkan oleh koefisien arah yang positif. Bagi investor pembayaran dividen
yang stabil merupakan indikator prospek perusahaan yang stabil pula dengan
demikian resiko perusahaan juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan
perusahaan dengan perusahaan yang membayar deviden tidak stabil.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebijakan deviden merupakan bagian yang
tidak dapat dipisahan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Secara definisi,
kebijakan deviden adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada
akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk deviden atau akan
ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi dimasa yang akan datang.
Faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden yaitu posisi likuiditas perusahaan,
kebutuhan dana untuk membayar hutang, tingkat pertumbuhan perusahaan,
pengawasan terhadap perusahaan, kemampuan meminjam, tingkat keuntungan,
stabilitas return, dan akses kepasar modal. Pendapat tentang kebijakan deviden
yaitu pendapat tentang ketidakrelevanan deviden (irrelevant theory) dan
Pendapat tentang relevansi deviden (relevant theory). Macam-macam kebijakan
deviden yaitu kebijakan deviden yang stabil, kebijakan deviden dengan penetapan
jumlah deviden minimal ditambah jumlah ekstra tertentu, kebijakan deviden
dengan penetapan deviden payout ratio yang konstan, dan kebijakan deviden yang
stabil.
Dalam keputusan pembagian deviden perlu
dipertimbangkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Dengan demikian
laba tidak seluruhnya dibagikan ke dalam bentuk deviden namun perlu disisihkan
untuk diinvestasikan kembali. Berkaitan dengan kebijakan
deviden tersebut terlihat bahwa
terdapat beberapa pihak yang saling berbeda kepentingan, yaitu antara
kepentingan pemegang saham, pemegang obligasi, dan pihak perusahaan itu
sendiri. Besar kecilnya deviden yang akan dibayarkan oleh perusahaan tergantung
pada kebijakan deviden dari masing-masing perusahaan, sehingga pertimbangan
manajen sangat diperlukan
DAFTAR PUSTAKA
- Atika Jauhari Hatta. 2002. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Deviden.
- Anonim. 2010. Modul Manajemen Keuangan. Depok.
- Latiefasari Hani Diana. 2011. Anallisis yang mempengaruhi factor-faktor Kebijakan Deviden. Skripsi Sarjana. Semarang. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar