MANAJEMEN KEUANGAN II
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keuangan
II Di Semester Empat
Prodi
S1 Manajamen
Disusun Oleh :
1.
Muhammad
Machfiru Rozaqi / 5130014008
2.
Ilma Ainushofa A /
5130014024
3.
Yusi Nur Irmalia
/ 5230014007
4.
Chytia Ayu
Agusetyani / 5230014013
5.
Hariyanto /
5230014015
Dosen Pembimbing :
NINNASI
MUTTAQIN,S.M.B,M.SM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kinerja
perekonomian Indonesia selama lima tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan
yang membaik. Perkembangan perekonomian Indonesia yang positif tersebut secara
tidak langsung berpengaruh terhadap kegiatan investasi di Pasar Modal
Indonesia.
Menurut
Tandelilin (2001), faktor - faktor ekonomi makro secara empiris terbukti
mempunyai pengaruh terhadap perkembangan investasi di beberapa negara. Bagi
investor, berinvestasi di pasar modal merupakan kesempatan untuk meningkatkan
kekayaannya karena berinvestasi di pasar modal menawarkan tingkat pengembalian
(return) yang cenderung lebih tinggi dibandingkan deposito perbankan dan
memungkinkan investor untuk memilih investasi sesuai dengan preferensi mereka.
Return
yang diharapkan oleh investor dalam melakukan investasinya dapat berupa defiden dan capital gain. Defiden adalah pembagian labakepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang
dimiliki sedangkan capital gain adalah
selisih antara harga beli dan harga jual saham. Dalam prakteknya, defiden
sering kali digunakan sebagai indikator prospek perusahaan. Oleh karena itu,
perusahaan yang go public mempunyai
kewajiban untuk menginformasikan segala macam bentuk kebijakan perusahaan yang
menyangkut kepentingan para pemegang saham termasuk mengumumkan pembagian
defiden yang akan dibayarkan kepada investor.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penyusunan makalah
ini adalah bagaimana gambaran struktur modal.
C. Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adah untuk mengetahui gambaran struktur modal.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Struktur
Modal
Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh
pemilik perusahaan dalam pos modal (modal saham), keuntungan atau laba
yang ditahan atau kelebihan aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh
utangnya (Munawir,2001).
Modal pada dasarnya terbagi atas dua bagian yaitu
modal Aktif (Debet) dan modal Pasif (Kredit).
Struktur Modal adalah perimbangan atau
perbandingan antara modal asing dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam
hal ini adalah hutang baik jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan
modal sendiri bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan
kepemilikan perusahaan.
Struktur Modal merupakan masalah penting dalam
pengambilan keputusan mengenai pembelanjaan perusahaan. Untuk mengukur Struktur
Modal tersebut maka dapat digunakan beberapa Teori yang menjelaskan Struktur
Modal dalam suatu Perusahaan.
1. Teori Pendekatan Tradisional
Pendekatan Tradisional berpendapat akan adanya
struktur modal yang optimal. Artinya Struktur Modal mempunyai pengaruh terhadap
Nilai Perusahaan, dimana Struktur Modal dapat berubah-ubah agar bisa diperoleh
nilai perusahaan yang optimal.
2. Teori Pendekatan Modigliani dan Miller
Dalam teori ini berpendapat bahwa Struktur Modal
tidak mempengaruhi Perusahaan. Dalam hal ini telah dimasukkan faktor pajak.
Sehingga nilai Perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai
perusahan tanpa hutang, Kenaikan tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak.
3. Teori Trade-Off dalam Struktur Modal
Dalam kenyataan, ada hal-hal yang membuat
perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak banyaknya. Suatu hal yang
terpenting adalah dengan semakin tingginya hutang, akan semakin tinggi
kemungkinan kebangkrutan. Biaya kebangkrutan tersebut bisa cukup signifikan.
Biaya tersebut terdiri dari 2 (dua) hal, yaitu :
a. Biaya Langsung
Yaitu, biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya
administrasi, atau biaya lainnya yang sejenis.
b.
Biaya Tidak
Langsung
Yaitu, biaya yang terjadi karena dalam kondisi
kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan
perusahaan secara normal. Misalnya Suplier tidak akan mau memasok barang karena
mengkwatirkan kemungkinan tidak akan membayar.
Biaya lain dari peningkatan hutang adalah
meningkatnya biaya keagenan antara pemegang hutang dengan pemegang saham akan
meningkat, karena potensi kerugian yang dialami oleh pemegang hutang akan
meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan. Pengawasan bisa dilakukan dalam
bentuk biaya biaya monitoring (Persyaratan yang lebih ketat) dan bisa dalam bentuk
kenaikan tingkat bunga
4. Teori Pecking Order
Teori Trade-Off mempunyai implikasi bahwa manager
akan berfikir dalam kerangka trade-off antara penghematan pajak dan biaya
kebangkrutan dalam penentuan Struktur Modal. Dalam kenyataan empiris nampaknya
jarang manager keuangan yang berfikir demikian.
Secara spesifik, perusahaan mempunyai urutan-urutan
prefensi dalam penggunaan dana. Skenario urutan dalam Teori Pecking Order
adalah sebagai berikut :
a.
Perusahaan memilih
pandangan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan)
yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
b.
Perusahaan
menhitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan
investasi.
c.
Karena kebijakan
deviden yang konstan, digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan
investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima
oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada
saat saat tertentu dan akan lebih kecil pada saat yang lain.
d.
Jika padangan
eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling
aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudian dengan
surat berharga campuran seperti obligasi konvertibel, dan kemudian barangkali
saham sebagai pilihan terakhir.
Teori Pecking Order ini bisa menjelaskan mengapa
perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang lebih tinggi justru mempunyai
tingkat hutang yang lebih kecil.
5. Teori Asimetri Informasi dan Signaling
Teori ini mengatakan bahwa dalam pihak pihak yang
berkaitan dengan perusahaan tidak mempunyai informasi yang sama mengenai
prospek dan resiko perusahaan. Pihak tertentu mempunyai informasi yang lebih
dari pihak lainnya.
Teori
ini terdiri dari Teori :
a.
Myers dan Majluf
Menurut Teori ini ada asimetri informasi antara
manger dengan pihak luar. Manager mempunyai informasi yang lebih lengkap
mengenai kondisi perusahaan dibandingan pihak luar.
b.
Signaling
Mengembangkan model dimana struktur modal
(penggunaan hutang) merupakan signal yang disampaikan oleh manager ke pasar.
Jika manager mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya
ingin agar saham tersebut meningkat, ia ingin megkomunikasikan hal tersebut
kepada investor. Manager bisa menggunakan hutang lebih banyak sebagai signal
yang lebih credible. Karena perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang
sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang.
Investor diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa perusahaan
mempunyai prospek yang baik.
B. Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal
Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Struktur Modal antara lain :
1.
Struktur Aktiva (Tangibility)
Kebanyakan
perusahaan industri yang sebagian besar modalnya tertanam dalam aktiva tetap ,
akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal yang permanent yaitu modal
sendiri, sedangkan hutang bersifat pelengkap. Perusahaan yang semakin besar
aktivanya terdiri dari aktiva lancer akan cenderung mengutamakan
pemenuhan kebutuhan dana dengan utang. Hal ini menunjukkan adanya
pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal suatu perusahaan.
2.
Growth Opportunity
Yaitu
kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang
menguntungkan. Teori Agency menggambarkan hubungan yang negative antara Growth
Opprtunity dan leverage. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi
cenderung akan melewatkan kesempatan dalam berinvestasi pada kesempatan
investasi yang menguntungkan.
3.
Ukuran Perusahaan (Firm Size)
Perusahaan
besar cenderung akan melakukan diversifikasi usaha lebih banyak dari pada
perusahaan kecil. Oleh karena itu kemungkinan kegagalan dalam menjalankan usaha
atau kebangkrutan akan lebih kecil. Ukuran perusahaan sering dijadikan
indicator bagi kemungkinan terjadinya kebangkrutan bagi suatu perusahaan,
dimana perusahaan dalam ukuran lebih besar dipandang lebih mampu menghadapi
krisis dalam menjalankan usahanya.
4.
Profitabiltas
Teori
Pecking Order mengatakan bahwa perusahaan lebih menyukai internal
funding. Perusahaan dengan frofitalitas yang tinggi tentu memiliki dana
internal yang lebih banyak dari pada perusahaan dengan profitalitas rendah.
Perusahaan
dengan tingkat pengembalian yang tinggi investasi menggunakan utang yang
relative kecil (Bringham & Houston, 2001).
Tingkat
pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan
pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Hal ini menunjukkan
bahwa profitalitas berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan. Semakin
tinggi keuntungan yang diperoleh berarti semakin rendah utang.
5.
Risiko Bisnis
Risiko
Bisnis akan mempersulit perusahaan dalam melaksanakan pendanaan eksternal,
sehingga secara teori akan berpengaruh negative terhadap leverage perusahaan.
BAB III
KESIMPULAN
Dari
uraian yang telah di tulis maka
dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1.
Bahwa Struktur Aktiva (Tangibility),Growth
Opportunity, Ukuran Perusahaan (Firm Size), Profitabiltas dan Risiko
Bisnis baik secara simultan maupun parsial mempunyai pengaruh pada Keputusan
Struktur Modal Suatu Perusahaan.
2.
Dari
faktor-faktort tersebut mempunyai pengaruh satu dengan yang lainnya.Sehing
dengan demikian Para Investor, Kreditor maupun Managemen Perusahaan
hendaknya memberikan perhatian yang lebih kepada informasi atas faktor-faktor
yang mempengaruhi tersebut.
3. Struktur modal hadir sebagai
pengetahuan dari hasil perhitungan rasio antara utang jangka panjang dengan
modal sendiri. Ini berarti, struktur modal hanya tercermin pada golongan pasiva
dana permanen. Dengan demikian tidaklah berlebihan struktur modal dikatakan
sebagai bagian dari struktur finansial.
Tujuan utama terbentuknya
perusahaan adalah mencari keuntungan serta kesinambungan usaha. Untuk mencapai
keuntungan yang diharapkan, perusahaan memerlukan dana untuk keperluan operasi
dan investasi. Berbagai pertimbangan perlu diperhatikan dalam memenuhi dana
tersebut antara lain biaya modal, resiko yang mungkin dihadapi apabila dana
tersebut ditarik dari hutang jangka panjang atau menerbitkan saham biasa.
Disamping itu seberapa besar komposisi struktur modal yang optimal bagi
perusahaan.
·
Brigham
& Houston.Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Buku 2/Edisi 10
·
James C. Van Horne dan John M. Wachowicz,JR,
Fundamentals of Financial Management, Buku 1 Edisi 12, Terjemahan, Salemba
Empat, Jakarta, 2005
·
http://fe.elcom.umy.ac.id/file.php/52/Diktat_Kuliah_Manajemen_Keuangan_II/
BAB_12_Teori_Struktur_Modal.pdf.
·
Brigham, Eugene F. dan Houston, Joel F..
2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan (Edisi ke-10). Salemba Empat, Jakarta,
Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar